Ditanya sastra itu apa? saya sendiri tidak pernah ingin tahu dengan detail. Seingat saya dulu, menjadi seorang penulis sepertinya sangat sulit apa lagi sampai menerbitkan buku rasanya sangat istimewa. Menjadi penulis best seller itu luar biasa. Saya selalu merasa kagum dengan orang-orang yang pandai menulis.Sepertinya itu adalah profesi yang sangat mulia dan butuh kecerdasan ekstra.
Pada tahun 2007 bulan 07 tanggal 11 secara tidak sengaja saya menemukan sebuah situs menulis on line www.kemudian.com di Wikipedia, dengan keterangan sebuah situs komunitas penulis amatir terbesar. Karena penasaran saya mengklik link tersebut dan registrasi dengan username bl09on, sampai sekarang. Saya merasa senang berada disana, belajar puisi, cerita dan saling memberi point serta komentar pada karya yang diposting oleh membernya. Dulu saya sering dapat point 4 daripara senior. Tentu karena memang kualitas tulisan saya yang memang masih sangat buruk. Tentang EyD, tanda baca dan pembentukan karakter yang masih sangat dangkal, tidak membuat saya berhenti untuk terus menulis. Padahal waktu itu saya tidak pernah berniat untuk jadi seorang penulis apalagi menerbitkan buku. Beruntung saya mengenal orang-orang yang sangat baik yang mau berbagi ilmu, Sefryana Khairil, Adryan Achyar, Dadan Erlangga, Hara Hope dan Windry Ramadhina, Shinichi Kudo adalah sahabat saya yang dengan telaten mengajari melalui yahoo messenger. Sekarang saya sudah banyak mengenal penulis hamble yang berkualitas dan tidak pelit membagi ilmunya, Pak Maman S Mahayana, Christian Simamora, Wa Ode Wulan Ratna dan masih banyak lagi. Saya sangat senang karena mereka memang sudah jauh lebih jago soal menulis tapi mau mengajari saya dari nol. Bahkan penggunaan tanda (") sekalipun.
Pada akhir tahun 2009 saya mulai aktif lagi menulis sejak membuat akun FB yang sejak pertama hingga saat ini belum pernah saya ganti namanya Minie Kholik, saya sering membuat tulisan iseng lalu saya tag ke teman-teman FB saya yang memang masih sangat sedikit, tapi terasa sangat akrab dan sering ngobrol di status masing-masing. Beruntung mereka adalah orang-orang yang memang memiliki banyak ilmu yang bisa saya serap dalam bidang apapun. Ahli seni, pemuka Agama , Pengusaha, Guru, dan banyak lagi.
Pada hari buku sedunia tahun 2010 saya iseng ikut game cerita estafet yang diadakan oleh GagasMedia dan saya jadi salah satu pemenangnya. Saya sangat senang bukan karena saya dapat hadiah 3 buku dari Gagas.Tapi dengan begitu saya merasa ada kemajuan dalam tulisan saya. Lalu saya mencoba ikut lomba lagi di event lomba cipta puisi dengan tema luka yang diadakan oleh Fatamorgana Publisher dan saya pun ikut jadi pemenang favorit pilihan pemilik publisher tersebut Vasca Vanisa. Lalu puisi sayapun kembali terpilih dalam event lomba puisi untukdibukukan oleh penerbit Hasfa Publisher. Saya pun semakin semangat untuk belajar menulis lebih baik hingga saya mendapat tawaran untuk menjadi kontributor di sebuah majalah sekitar 6 bulan. Lalu keluar karena ada beberapa hal. Lalu saya ditawari jadi kontributor disebuah tabloid. Sejak itu saya sibuk menulis dan belajar tentang banyak kekurangan tulisan saya.
Semakin kesini menerbitkan buku itu terasa makin mudah. Tapi justru membuat saya semakin tidak tertarik. Kenapa? karena semakin mudah sesuatu didapatkan maka hal itu tak lagi menarik. Saya tidak menyepelekan apapun dan siapapun. Jelas semua penulis memiliki kelebihan dan kekurangan yang sangat berbeda. Tapi dalam pengamatan saya justru banyak yang menulis demi mendapat gelar penulis. Tidak peduli kalau harus menguras kantong sendiri. Sedangkan untuk pemasaran adalah sistim koneksi, siapa yang bisa mencari teman sebanyak-banyaknya maka bukunya laku sebanyak teman yang ia punya. Lalu kualitas jadi nomer sekiannya. Dan buku yang benar-benar berkualitas justru tidak sampai ke pembacanya.
Sepertinya dunia sastra sudah menjadi ladang bisnis bagi yang bisa memanfaatkannya. Dan saya kurang menyukai hal ini. Karena itulah saya belum tertarik untuk menggunakan uang saya untuk menerbitkan buku. Saya justru lebih tertantang untuk memasuki penerbit mayor dengan mengandalkan kualitas. Meskipun saya sering dengar ada penerbit besar yang bersedia menerbitkan buku seseorang jika mau membayar sekian juta. Lalu apa tujuan orang itu menulis?
Saya juga miris saat membaca sebuah karya yang menurut biografi yang tertera beliau sudah biasa malang melintang di dunia penulisan seorang script writer beberapa cerita televisi dan sudah menerbitkan beberapa buku meskipun bukan dari penerbit besar. Yang saya sayangkan adalah kualitas tulisannya. Yang memang menurut pengakuannya hanya butuh beberapa hari, What? keren ya? NO. Bahkan cerita yang dibuatnya mentah menurut penilaian saya yang masih awam sastra. Lalu bagaimana limpahan pujian dari pengamat, pereview tulisan-tulisan itu? Jadi apa yang sebenarnya terjadi dengan dunia seni, dunia satra di Indonesia? Koneksi, Uang , atau Kualitas?
Maka lihatlah hasil dari negara ini sekarang. Jika segalanya didasarkan atas koneksi dan uang...
Semua tulisan ini adalah hasil pengamatan saya sendiri yang memang awam dan sangat sedikit pengetahuan tentang penulisan.
MK, Gumelar 04 Agustus 2012
Tampilkan postingan dengan label Kritik dan Sosial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kritik dan Sosial. Tampilkan semua postingan
Minggu, 05 Agustus 2012
Kamis, 23 Desember 2010
Hotel 212
Seorang gadis tertawa lepas menikmati pemandangan yang ada dalam ruang dimana ia duduk sekarang. Tawa yang selama 15 tahun terampas dari kehidupannya. Selama 15 tahun pula ia hidup dalam istana kardus kesayangan. Istana yang merupakan harta termahal yang pernah ia miliki.
Suatu hari Mini sebut saja itu sebagai nama warisan kedua orangtuanya sebelum meninggal. Kedua orang tuanya meninggal dalam peristiwa kebakaran di sebuah pasar 12 tahun silam. Selama 12 tahun pula Mini hidup sendiri tanpa siapapun; buta huruf atau buta aksara adalah predikat kekal bagi dirinnya. Hingga akhirnya pada suatu hari ia bertemu dengan seorang pemuda bernama Boby yang baik hati, tentunya versi Mini. Boby yang berpenampilan biasa meskipun sebenarnya sedikit aneh.
"Hai cewek" Sapa Boby menggoda. Tepat di jalan yang tidak jauh dari istana megah tempat tinggalnya. Bila di bandingkan istana kardus milik Mini tempat tinggal Boby jauh lebih nyaman paling tidak dia terhindar dari kebocoran.
Mini yang memang pendiam hanya menengok acuh kearah Boby yang berdiri dibalik terlali pagar besi.
"Hmm... sombong!" Boby cemberut.
Boby yang penasaran dengan gadis kecil ini terus mengikuti langkah Mini. Ia memutuskan keluar dari pagar besar istananya. Terus mengikuti langkah mini menyusuri gang-gang kecil yang kumuh. Akhirnya sampailah ia di istana kardus milik Mini. Boby terperangah menatap sebuah gubuk reot yang berbalut kardus disana-sini. Tidaklah pantas bila rumah itu dijadikan sebagai tempat tinggal manusia. Boby merasa iba dengan keadaan Mini. Kemudian Boby mengajak Mini kedalam istana yang telah ia huni selama 6 tahun. Boby memaksa Mini agar mau ikut tinggal denganya, dalam sebuah istana yang cukup menurut Boby akan bisa membuat Mini merasa lebih tenang.
Tempat dimana orang-orang menggunakannya sebagai tempat pelarian dari lelahnya hidup. Dengan terpaksa Mini mengikuti Boby karena tidak ada pilihan lain, akhirnya mereka berdua menuju istana tempat ternyaman bagi Boby.
....................................
Istana Boby...
Istana Boby terdiri dari sekat-sekat kamar, didalamnya terdapat beberapa ranjang single bed. Setiap hari Mini hanya bisa menatap heran pada orang-orang yang baru ia temukan. Sebuah adaptasi aneh yang harus ia lakoni. Berbagai macam penampilan manusia ia amati. Tertawa, menangis, menjerit, suara-suara itu selalu menghiasi hunian barunya.
Diamatinya lelaki berambut keriting yang sedang bermain bulutangkis. Meskipun tidak ada kok yang terbang untuk di pukulnya, ia nampak menikmati permainannya dengan gembira. Yang terlihat hanya gerakan-gerakan aneh.
Di pojok utara ada seorang wanita yang sedang sibuk mengepang rambutnya sendiri sesekali ia tertawa lalu menjerit, ada yang pura-pura merokok ada juga yang triping layaknya seorang pemabuk sedang sakau. Konglomerat berdasipun ikut meramaikan suasana, di tandai dengan koper hitam yang selalu dibawa kemana-mana layaknya seorang pengusaha besar.
Mini merasa beruntung telah di bawa ketempat itu, meskipun ia tidak pernah tau nama tempat ini; sesungguhnya karena ia buta huruf. Ia tidak pernah sadar dengan tulisan yang terdiri dari beberapa huruf di depan gedung yang ternyata adalah "RUMAH SAKIT JIWA". Kalaupun tau, dia tidak akan pernah peduli karena baginya tempat itu jauh lebih nyaman daripada tinggal dalam istana kardus yang dihiasi ketakutan dan kemunafikan.
Mini terlarut dalam kehidupan barunya, ia telah melepas kepenatan yang ia alami, melupakan segala kenangan yang tergambar di luar sana. Dimana semua orang sibuk dengan keduniawi-an. Kini ia telah hidup diantara orang-orang yang telah lelah dengan tanggung-jawab dari sebuah akal. Tertawa menikmati yang ada.
Tak jauh dari tempat Mini, duduk ada 2 orang berseragam putih; seorang lelaki tinggi besar berkulit putih dan disampingnya seorang suster berbadan kurus.
"Dok, sepertinya pasien no.212 semakin parah penyakit gilanya." Ucap suster pada dokter yang ada disampingnya.
"Buktinya?" tanya Dokter.
Suster cantik itu menunjukan jarinya ke arah Mini yang sedang tertawa menyaksikan Boby menari-nari ala raja Breakdance.
"Ia adalah pasien paling aneh bila dibandingkan dengan pasien lainya, karena sering tertawa sendiri" Ucapnya.
Suster itu merasa heran. Karena, Minilah satu-satunya orang yang masih sempat tertawa setiap menyaksikan tingkah sahabat-sahabat barunya. Padahal pasien lainnya tidak pernah saling menertawakan.
Itu berarti susterku yang sudah mulai ketularan virus 212, Apakah aneh menertawakan pemandangan lucu didepan orang gila.
Dokter itu pun pergi meninggalkan suster karena takut terkena virus 212 juga.
###
Ini adalah cerpen lama saya. Dibuat karena tantangan seorang teman dari kemudian.com(Boby), dengan tema orang gila ini cerpen komedi satire.
MK2007
Suatu hari Mini sebut saja itu sebagai nama warisan kedua orangtuanya sebelum meninggal. Kedua orang tuanya meninggal dalam peristiwa kebakaran di sebuah pasar 12 tahun silam. Selama 12 tahun pula Mini hidup sendiri tanpa siapapun; buta huruf atau buta aksara adalah predikat kekal bagi dirinnya. Hingga akhirnya pada suatu hari ia bertemu dengan seorang pemuda bernama Boby yang baik hati, tentunya versi Mini. Boby yang berpenampilan biasa meskipun sebenarnya sedikit aneh.
"Hai cewek" Sapa Boby menggoda. Tepat di jalan yang tidak jauh dari istana megah tempat tinggalnya. Bila di bandingkan istana kardus milik Mini tempat tinggal Boby jauh lebih nyaman paling tidak dia terhindar dari kebocoran.
Mini yang memang pendiam hanya menengok acuh kearah Boby yang berdiri dibalik terlali pagar besi.
"Hmm... sombong!" Boby cemberut.
Boby yang penasaran dengan gadis kecil ini terus mengikuti langkah Mini. Ia memutuskan keluar dari pagar besar istananya. Terus mengikuti langkah mini menyusuri gang-gang kecil yang kumuh. Akhirnya sampailah ia di istana kardus milik Mini. Boby terperangah menatap sebuah gubuk reot yang berbalut kardus disana-sini. Tidaklah pantas bila rumah itu dijadikan sebagai tempat tinggal manusia. Boby merasa iba dengan keadaan Mini. Kemudian Boby mengajak Mini kedalam istana yang telah ia huni selama 6 tahun. Boby memaksa Mini agar mau ikut tinggal denganya, dalam sebuah istana yang cukup menurut Boby akan bisa membuat Mini merasa lebih tenang.
Tempat dimana orang-orang menggunakannya sebagai tempat pelarian dari lelahnya hidup. Dengan terpaksa Mini mengikuti Boby karena tidak ada pilihan lain, akhirnya mereka berdua menuju istana tempat ternyaman bagi Boby.
....................................
Istana Boby...
Istana Boby terdiri dari sekat-sekat kamar, didalamnya terdapat beberapa ranjang single bed. Setiap hari Mini hanya bisa menatap heran pada orang-orang yang baru ia temukan. Sebuah adaptasi aneh yang harus ia lakoni. Berbagai macam penampilan manusia ia amati. Tertawa, menangis, menjerit, suara-suara itu selalu menghiasi hunian barunya.
Diamatinya lelaki berambut keriting yang sedang bermain bulutangkis. Meskipun tidak ada kok yang terbang untuk di pukulnya, ia nampak menikmati permainannya dengan gembira. Yang terlihat hanya gerakan-gerakan aneh.
Di pojok utara ada seorang wanita yang sedang sibuk mengepang rambutnya sendiri sesekali ia tertawa lalu menjerit, ada yang pura-pura merokok ada juga yang triping layaknya seorang pemabuk sedang sakau. Konglomerat berdasipun ikut meramaikan suasana, di tandai dengan koper hitam yang selalu dibawa kemana-mana layaknya seorang pengusaha besar.
Mini merasa beruntung telah di bawa ketempat itu, meskipun ia tidak pernah tau nama tempat ini; sesungguhnya karena ia buta huruf. Ia tidak pernah sadar dengan tulisan yang terdiri dari beberapa huruf di depan gedung yang ternyata adalah "RUMAH SAKIT JIWA". Kalaupun tau, dia tidak akan pernah peduli karena baginya tempat itu jauh lebih nyaman daripada tinggal dalam istana kardus yang dihiasi ketakutan dan kemunafikan.
Mini terlarut dalam kehidupan barunya, ia telah melepas kepenatan yang ia alami, melupakan segala kenangan yang tergambar di luar sana. Dimana semua orang sibuk dengan keduniawi-an. Kini ia telah hidup diantara orang-orang yang telah lelah dengan tanggung-jawab dari sebuah akal. Tertawa menikmati yang ada.
Tak jauh dari tempat Mini, duduk ada 2 orang berseragam putih; seorang lelaki tinggi besar berkulit putih dan disampingnya seorang suster berbadan kurus.
"Dok, sepertinya pasien no.212 semakin parah penyakit gilanya." Ucap suster pada dokter yang ada disampingnya.
"Buktinya?" tanya Dokter.
Suster cantik itu menunjukan jarinya ke arah Mini yang sedang tertawa menyaksikan Boby menari-nari ala raja Breakdance.
"Ia adalah pasien paling aneh bila dibandingkan dengan pasien lainya, karena sering tertawa sendiri" Ucapnya.
Suster itu merasa heran. Karena, Minilah satu-satunya orang yang masih sempat tertawa setiap menyaksikan tingkah sahabat-sahabat barunya. Padahal pasien lainnya tidak pernah saling menertawakan.
Itu berarti susterku yang sudah mulai ketularan virus 212, Apakah aneh menertawakan pemandangan lucu didepan orang gila.
Dokter itu pun pergi meninggalkan suster karena takut terkena virus 212 juga.
###
Ini adalah cerpen lama saya. Dibuat karena tantangan seorang teman dari kemudian.com(Boby), dengan tema orang gila ini cerpen komedi satire.
MK2007
"Oek," Tangisan Orok
Bola mata kecilku kini mulai berputar menyaksikan bayangan-bayangan yang ada di sekelilingku.
"Oek..." adalah satu-satunya jenis kata yang baru bisa keluar dari katupan kedua bibir mungilku.
Satu kata sederhana yang mungkin sulit untuk dicerna bagi yang mendengarnya, dan tidak jarang pusing dalam mengartikanya.
Di bawah benderangnya lampu warna-warni yang ada di atas sana, di tengah hiruk pikuknya perempatan jalan raya, bola mataku hanya bisa berputar menikmati anugerah-Nya.
Bunda terimakasih engkau selalu membawaku kemanapun kau langkahkan kaki. Aku selalu kau dekap dalam kehangatan aroma kasih sayang dari dalam tubuhmu.
Tapi bunda tidakkah kau dengar suara tangisku ini?
Bunda... Ayo pulang kenapa kita harus di sini, kenapa kita harus menunggu setiap kendaraan berhenti. Bunda.. kenapa orang-orang itu menaruh sekeping logam di atas telapak tanganmu?
Pulanglah bunda.. bola mataku telah lelah menyaksikan hiruk-pikuk kota ini, bunda aku ingin hanyut dan terlelap dalam buaian kidung penghantar tidur, bukan buaian belas kasihan dari setiap penikmat jalan.
Bunda.. mainan mobil-mobilan ini terlalu besar bagiku, lampu warna-warni lalulintas itu terlalu tinggi untukku, hembusan angin lembut itu terlalu keras menampar kulit lembutku bunda...
Bunda pulanglah, aku ingin aroma susu, tapi kenapa di sini aromanya berbeda? kenapa susu yang ku kecap beraroma menyengat?
Oh ... tidak, ternyata aku salah rasa, rasa nikmat susu yang kau alirkan dalam tubuhku kini bercampur dengan aroma alkohol dari om pemabuk diatas mobil-mobilan besar itu.
"Dasar pengemis." Sakit bunda, kalimat itu terlontar dari mereka yang sedang terbahak di atas mercy-nya.
"Aduh kasihan banget," kejam terasa, bunda telingaku belum rela untuk dikasihani.
Bunda.. pulanglah biarkan aku besar dari keringatmu, kemana ayahku yang perkasa dan berotot.
Allah bersama kita, ijinkan aku bunda...
andai aku besar nanti aku berjanji , akan kuhapus air matamu dengan kedua tanganku ini. Biarkan kedua lengan ini menggantikan peluh yang mengalir dari dalam tubuhmu.
###
Ini hanya bentuk protes saya terhadap Ibu- ibu yang membawa anak-anaknya untuk jadi peminta. Bukan saya tidak peka tapi saya tidak setuju dengan cara mereka.
Perempatan lampu merah,Jl. percetakan negara, jak-pus, 01;35 ,1 september 2007
"Oek..." adalah satu-satunya jenis kata yang baru bisa keluar dari katupan kedua bibir mungilku.
Satu kata sederhana yang mungkin sulit untuk dicerna bagi yang mendengarnya, dan tidak jarang pusing dalam mengartikanya.
Di bawah benderangnya lampu warna-warni yang ada di atas sana, di tengah hiruk pikuknya perempatan jalan raya, bola mataku hanya bisa berputar menikmati anugerah-Nya.
Bunda terimakasih engkau selalu membawaku kemanapun kau langkahkan kaki. Aku selalu kau dekap dalam kehangatan aroma kasih sayang dari dalam tubuhmu.
Tapi bunda tidakkah kau dengar suara tangisku ini?
Bunda... Ayo pulang kenapa kita harus di sini, kenapa kita harus menunggu setiap kendaraan berhenti. Bunda.. kenapa orang-orang itu menaruh sekeping logam di atas telapak tanganmu?
Pulanglah bunda.. bola mataku telah lelah menyaksikan hiruk-pikuk kota ini, bunda aku ingin hanyut dan terlelap dalam buaian kidung penghantar tidur, bukan buaian belas kasihan dari setiap penikmat jalan.
Bunda.. mainan mobil-mobilan ini terlalu besar bagiku, lampu warna-warni lalulintas itu terlalu tinggi untukku, hembusan angin lembut itu terlalu keras menampar kulit lembutku bunda...
Bunda pulanglah, aku ingin aroma susu, tapi kenapa di sini aromanya berbeda? kenapa susu yang ku kecap beraroma menyengat?
Oh ... tidak, ternyata aku salah rasa, rasa nikmat susu yang kau alirkan dalam tubuhku kini bercampur dengan aroma alkohol dari om pemabuk diatas mobil-mobilan besar itu.
"Dasar pengemis." Sakit bunda, kalimat itu terlontar dari mereka yang sedang terbahak di atas mercy-nya.
"Aduh kasihan banget," kejam terasa, bunda telingaku belum rela untuk dikasihani.
Bunda.. pulanglah biarkan aku besar dari keringatmu, kemana ayahku yang perkasa dan berotot.
Allah bersama kita, ijinkan aku bunda...
andai aku besar nanti aku berjanji , akan kuhapus air matamu dengan kedua tanganku ini. Biarkan kedua lengan ini menggantikan peluh yang mengalir dari dalam tubuhmu.
###
Ini hanya bentuk protes saya terhadap Ibu- ibu yang membawa anak-anaknya untuk jadi peminta. Bukan saya tidak peka tapi saya tidak setuju dengan cara mereka.
Perempatan lampu merah,Jl. percetakan negara, jak-pus, 01;35 ,1 september 2007
DIMANA SERAGAM SAYA
Pagi yang cerah. Seperti biasa saya berdiri di depan Sekolah Dasar Negri 2. Terdengar tawa riuh anak-anak kecil, terkadang juga diselingi jeritan karena mereka sedang main kejar-kejaran, senang sekali kelihatanya.
"Om, beli es-nya"
Seorang bocah menghampiri saya dan mengulurkan satu lembar uang RP 500,00.
Seperti inilah hari-hari yang saya lalui, sebagai penjual es. Setiap hari saya pasti magang di depan SD ini. Menyaksikan anak-anak kecil berseragam merah putih kadang-kadang membuat saya tertawa terkadang juga merasa getir. Mereka mengingatkan saya pada peristiwa 10 tahun silam.
"Ngga mau!" Saya berteriak saat ibu menyodorkan satu stel seragam berwarna merah putih baru.
"Lho ini kan bagus masih baru, jauh lebih bagus dari baju TK adek yang itu." Ibu menunjuk kearah baju seragam yang sedang saya dekap.
Ibu berusaha merayu saya agar saya mau memakai seragam merah putih dan segera berangkat kesekolah.
Saya suka sekali dengan seragam TK saya dulu, celana biru tua dan kemeja pendek berwarna biru muda, ada rompinya berwarna senada dengan celana, lalu dilengkapi dasi kupu-kupu yang menurut saya sangat bagus.
"Ngga mau!" teriak saya lagi, berulang kali.
Kukuh pada pendirian. Saya yang tetap ingin memakai seragam TK, padahal saya sudah memasuki tahun ajaran baru dan itu berarti saya harus pindah sekolah yaitu Sekolah Dasar. Seharusnya saya senang karena saya sudah kelas 1 mengenakan seragam baru ke sekolah baru. Tapi nyatanya tidak, saya malah berat pada sekolah TK. Sebenarnya bukan karena seragam atau sekolahnya yang saya permasalahkan tapi karena pelajarannya. Menurut Kakak saya pelajaran di SD itu susahnya minta ampun. Ada pelajaran Matematika yang bikin botak kepala, ada IPA yang bikin bingung, masih banyak lagi sumpah serapah kakak yang bikin mengkerut nyali saya.
Saya lihat ketiga kakak saya sangat kecewa dengan ulah saya kali ini. Gara-gara saya mereka pun terancam terlambat masuk sekolah, padahal mereka sudah bersemangat dengan tas baru,buku baru,seragam mereka yang juga baru.
Tapi saya malah masih larut dengan ketakutan saya yang tidak beralasan. "Dek, ayo dong cepetan" itulah sentakan mereka secara bergantian.
Tiba-tiba ayah masuk dari belakang pintu dengan sebilah tongkat berwarna hitam mengkilat. Yah... itu pentungan yang biasa di pakai oleh Hansip sesuai dengan jabatan ayah yang seorang Hansip kampung.
"Mau sekolah ngga?" Melihat ayah yang nampak garang sedang marah, saya langsung berdiri memeluk ibu dan akhirnya mau memakai seragam merah putih, lalu berangkat dengan 3 kakak saya, yang masing-masing hanya selang usia 1 tahun saja.
Dengan rasa takut dan penuh tanda tanya saya mengikuti langkah kakak dari belakang.
Setelah kira-kira 15 menit perjalanan, kami sampai di sekolah. Begitu banyak anak kecil yang mengenakan seragam seperti seragam yang saya kenakan. Pantas ibu memaksa saya untuk tidak mengenakan seragam TK. Seandainya saya tetap memakainya mungkin saya malah akan lebih malu lagi karena mengenakan seragam nyasar.
Di sambut senyuman seorang Ibu Guru cantik yang mengenalkan diri dengan nama Ibu Ningsih. Beliau cantik sekali senyumnya pun ramah, saya suka sekali dengan beliau karena beliau sabar dan tidak galak seperti yang saya bayangkan.
Esok harinya ibu tidak perlu lagi memaksa saya untuk mengenakan seragam merah putih, karena belum sempat ibu menyuruh, saya sudah siap untuk sarapan dan berangkat.
Sudah 6 kali saya ganti seragam tanpa terasa 6 tahun sudah saya jadi penghuni SDN 2 dan itu berarti masa saya untuk belajar di SD itu pun akan berakhir. Setelah menempuh Ebtanas, akhirnya saya dinyatakan lulus dengan nilai cukup memuaskan. Sayapun bersemangat untuk menantikan seragam baru yang tentunya berbeda warna dengan seragam semasa saya di SD.
"Bu, seragam adek yang baru mana?" Tagih saya pada ibu
Ibu mengusap rambut kepala saya lembut sekali. "Maafkan ibu,nak. ibu tidak bisa beli seragam baru buat adek." Ucapan ibu yang terdengar berat untuk diucapkan membuat saya teringat dengan sebuah celengan,celengan yang terbuat dari bambu dan diberi lubang kecil memanjang cukup untuk memasukan uang recehan. Itu simpanan saya yang biasa saya sisihkan sedikit dari jatah uang jajan saya sendiri.
Ibu terlihat mengeluarkan bulir-bulir air mata.
"Sebenarnya bukanya ibu tidak mampu membeli seragam, ibu hanya tidak mampu membiayai sekolahmu kelak."
Ucapan ibu serasa palu yang mendarat di ubun-ubun kepala saya, membuyarkan impian saya tentang seragam sekolah yang baru yang ingin sekali saya kenakan. Impian tinggallah impian bagaimanapun kenyataan jauh lebih manis dari pada sekedar mimpi yang belum terlakoni. Pupus!
***
"Om, kok melamun" suara bocah kecil itu membuyarkan lamunan saya, mengembalikan saya pada dunia nyata. Saya menatap kearah barisan anak-anak kecil yang antri untuk membeli es, yang sedang saya jual. Yah..itulah barisan anak-anak yang menantikan masa depan, dan berharap mereka tidak bernasib sama seperti saya.
MK 2007
"Om, beli es-nya"
Seorang bocah menghampiri saya dan mengulurkan satu lembar uang RP 500,00.
Seperti inilah hari-hari yang saya lalui, sebagai penjual es. Setiap hari saya pasti magang di depan SD ini. Menyaksikan anak-anak kecil berseragam merah putih kadang-kadang membuat saya tertawa terkadang juga merasa getir. Mereka mengingatkan saya pada peristiwa 10 tahun silam.
"Ngga mau!" Saya berteriak saat ibu menyodorkan satu stel seragam berwarna merah putih baru.
"Lho ini kan bagus masih baru, jauh lebih bagus dari baju TK adek yang itu." Ibu menunjuk kearah baju seragam yang sedang saya dekap.
Ibu berusaha merayu saya agar saya mau memakai seragam merah putih dan segera berangkat kesekolah.
Saya suka sekali dengan seragam TK saya dulu, celana biru tua dan kemeja pendek berwarna biru muda, ada rompinya berwarna senada dengan celana, lalu dilengkapi dasi kupu-kupu yang menurut saya sangat bagus.
"Ngga mau!" teriak saya lagi, berulang kali.
Kukuh pada pendirian. Saya yang tetap ingin memakai seragam TK, padahal saya sudah memasuki tahun ajaran baru dan itu berarti saya harus pindah sekolah yaitu Sekolah Dasar. Seharusnya saya senang karena saya sudah kelas 1 mengenakan seragam baru ke sekolah baru. Tapi nyatanya tidak, saya malah berat pada sekolah TK. Sebenarnya bukan karena seragam atau sekolahnya yang saya permasalahkan tapi karena pelajarannya. Menurut Kakak saya pelajaran di SD itu susahnya minta ampun. Ada pelajaran Matematika yang bikin botak kepala, ada IPA yang bikin bingung, masih banyak lagi sumpah serapah kakak yang bikin mengkerut nyali saya.
Saya lihat ketiga kakak saya sangat kecewa dengan ulah saya kali ini. Gara-gara saya mereka pun terancam terlambat masuk sekolah, padahal mereka sudah bersemangat dengan tas baru,buku baru,seragam mereka yang juga baru.
Tapi saya malah masih larut dengan ketakutan saya yang tidak beralasan. "Dek, ayo dong cepetan" itulah sentakan mereka secara bergantian.
Tiba-tiba ayah masuk dari belakang pintu dengan sebilah tongkat berwarna hitam mengkilat. Yah... itu pentungan yang biasa di pakai oleh Hansip sesuai dengan jabatan ayah yang seorang Hansip kampung.
"Mau sekolah ngga?" Melihat ayah yang nampak garang sedang marah, saya langsung berdiri memeluk ibu dan akhirnya mau memakai seragam merah putih, lalu berangkat dengan 3 kakak saya, yang masing-masing hanya selang usia 1 tahun saja.
Dengan rasa takut dan penuh tanda tanya saya mengikuti langkah kakak dari belakang.
Setelah kira-kira 15 menit perjalanan, kami sampai di sekolah. Begitu banyak anak kecil yang mengenakan seragam seperti seragam yang saya kenakan. Pantas ibu memaksa saya untuk tidak mengenakan seragam TK. Seandainya saya tetap memakainya mungkin saya malah akan lebih malu lagi karena mengenakan seragam nyasar.
Di sambut senyuman seorang Ibu Guru cantik yang mengenalkan diri dengan nama Ibu Ningsih. Beliau cantik sekali senyumnya pun ramah, saya suka sekali dengan beliau karena beliau sabar dan tidak galak seperti yang saya bayangkan.
Esok harinya ibu tidak perlu lagi memaksa saya untuk mengenakan seragam merah putih, karena belum sempat ibu menyuruh, saya sudah siap untuk sarapan dan berangkat.
Sudah 6 kali saya ganti seragam tanpa terasa 6 tahun sudah saya jadi penghuni SDN 2 dan itu berarti masa saya untuk belajar di SD itu pun akan berakhir. Setelah menempuh Ebtanas, akhirnya saya dinyatakan lulus dengan nilai cukup memuaskan. Sayapun bersemangat untuk menantikan seragam baru yang tentunya berbeda warna dengan seragam semasa saya di SD.
"Bu, seragam adek yang baru mana?" Tagih saya pada ibu
Ibu mengusap rambut kepala saya lembut sekali. "Maafkan ibu,nak. ibu tidak bisa beli seragam baru buat adek." Ucapan ibu yang terdengar berat untuk diucapkan membuat saya teringat dengan sebuah celengan,celengan yang terbuat dari bambu dan diberi lubang kecil memanjang cukup untuk memasukan uang recehan. Itu simpanan saya yang biasa saya sisihkan sedikit dari jatah uang jajan saya sendiri.
Ibu terlihat mengeluarkan bulir-bulir air mata.
"Sebenarnya bukanya ibu tidak mampu membeli seragam, ibu hanya tidak mampu membiayai sekolahmu kelak."
Ucapan ibu serasa palu yang mendarat di ubun-ubun kepala saya, membuyarkan impian saya tentang seragam sekolah yang baru yang ingin sekali saya kenakan. Impian tinggallah impian bagaimanapun kenyataan jauh lebih manis dari pada sekedar mimpi yang belum terlakoni. Pupus!
***
"Om, kok melamun" suara bocah kecil itu membuyarkan lamunan saya, mengembalikan saya pada dunia nyata. Saya menatap kearah barisan anak-anak kecil yang antri untuk membeli es, yang sedang saya jual. Yah..itulah barisan anak-anak yang menantikan masa depan, dan berharap mereka tidak bernasib sama seperti saya.
MK 2007
"Asu karo Kucing" Aku, Kamu, Kita
Berawal dari sebuah tayangan di televisi yang menggambarkan kehidupan antara dua binatang yaitu antara seekor anjing dan seekor kucing yang sedang bercengkrama begitu rukunnya. Sejak kecil saya sudah sering mendengar perumpamaan yang berbunyi " kaya asu karo kucing" yang artinya seperti anjing dan kucing. Istilah itu hanya menggambarkan antara dua orang yang selalu bertengkar. Konon anjing dengan kucing itu tak pernah akur. Tapi anggapan itu pupus setelah saya melihat sendiri . Gambaran seekor anjing dan kucing yang sedang bercengkrama dengan damainya. Lalu bagaimana dengan anggapan anjing dan kucing yang tercipta dahulu apakah beralih artinya...
Masalahnya binatang saja mampu merubah paradigma. Bagaimana dengan manusia. Setelah saya menonton siaran yang menggambarkan bagaimana berlangsungnya kerusuhan di Koja saya semakin merasa bahwa kita manusia telah kalah. Kalah menjadi manusia. Yang sesungguhnya jauh lebih mulia dari makhluk lainnya. Kenyataannya kita sebagai manusia tidak berpikir sebagaimana layaknya. Hal yang sesungguhnya bisa diselesaikan secara baik-baik harus dilalui dengan kekerasan yang memakan korban. Setelah korban nyawa dan banyaknya yang terluka keputusan akhir didapat dari hasil musyawarah. Kenapa tidak dari sebelumnya…
Pernahkah bangsa kita belajar dan mempelajari pengalaman yang pernah dilalui. Dari peristiwa reformasi hingga koja saat ini. Terlalu banyak korban nyawa untuk dalih membela. Membela siapa? Membela yang berkepintingan. Bagaimana para pejabat yang dianggap lebih baik dari pilihan terbaik nyatanya malah tidak mampu jadi mediasi yang baik. Banyaknya korupsi pajak yang ternyata juga dilakukan oleh badan-badan pajak itu sendiri. Lalu benarkah Negara kita miskin? Tidak. Negara kita hanya miskin moral dan kesadaran. Menghalalkan segala cara demi kepenting satu pihak, untuk pribadi, tanpa berpikir sebab dan akibat yang ditimbulkannya.
Peristiwa Tanjung Priok bukan untuk pertama kalinya peristiwa serupa justru telah terjadi berulangkali. Bodohkah, atau serakahkah? Khilafkah, tapi kenapa diulang-ulang. Kenapa tempat itu dijadikan cagar alam setelah banyak korban. Betapa mereka sangat gegabah dalam megambil keputusan. Cobalah berpikir secara bijak. Bagaimana nasib generasi selanjutnya kalau yang diwariskan hanya kerusakan demi kerusakan. Binatang saja mampu merubah tabiat, kenapa manusia justru sebaliknya. Kita harus berselisih dengan sesama manusia, bahkan satu negara. Tidakkah merasa rugi.
Berhentilah merusak citra negri sendiri... Save our Country
MK 22 April 2010
Masalahnya binatang saja mampu merubah paradigma. Bagaimana dengan manusia. Setelah saya menonton siaran yang menggambarkan bagaimana berlangsungnya kerusuhan di Koja saya semakin merasa bahwa kita manusia telah kalah. Kalah menjadi manusia. Yang sesungguhnya jauh lebih mulia dari makhluk lainnya. Kenyataannya kita sebagai manusia tidak berpikir sebagaimana layaknya. Hal yang sesungguhnya bisa diselesaikan secara baik-baik harus dilalui dengan kekerasan yang memakan korban. Setelah korban nyawa dan banyaknya yang terluka keputusan akhir didapat dari hasil musyawarah. Kenapa tidak dari sebelumnya…
Pernahkah bangsa kita belajar dan mempelajari pengalaman yang pernah dilalui. Dari peristiwa reformasi hingga koja saat ini. Terlalu banyak korban nyawa untuk dalih membela. Membela siapa? Membela yang berkepintingan. Bagaimana para pejabat yang dianggap lebih baik dari pilihan terbaik nyatanya malah tidak mampu jadi mediasi yang baik. Banyaknya korupsi pajak yang ternyata juga dilakukan oleh badan-badan pajak itu sendiri. Lalu benarkah Negara kita miskin? Tidak. Negara kita hanya miskin moral dan kesadaran. Menghalalkan segala cara demi kepenting satu pihak, untuk pribadi, tanpa berpikir sebab dan akibat yang ditimbulkannya.
Peristiwa Tanjung Priok bukan untuk pertama kalinya peristiwa serupa justru telah terjadi berulangkali. Bodohkah, atau serakahkah? Khilafkah, tapi kenapa diulang-ulang. Kenapa tempat itu dijadikan cagar alam setelah banyak korban. Betapa mereka sangat gegabah dalam megambil keputusan. Cobalah berpikir secara bijak. Bagaimana nasib generasi selanjutnya kalau yang diwariskan hanya kerusakan demi kerusakan. Binatang saja mampu merubah tabiat, kenapa manusia justru sebaliknya. Kita harus berselisih dengan sesama manusia, bahkan satu negara. Tidakkah merasa rugi.
Berhentilah merusak citra negri sendiri... Save our Country
MK 22 April 2010
More Than Fiction
Stranger than Fiction adalah judul sebuah film yang pernah saya tonton beberapa tahun yang lalu. Film ini berkisah tentang seorang penulis dan tokoh karanganya sendiri. Penulis wanita ini salalu mengakhiri novelnya dengan kematian pemeran utama-nya.
Tokoh pria pada novel yang sedang ditulis Si pengarang tadi berusaha memohon agar si penulis mau merubah ending cerita; Agar dirinya tidak harus meninggal pada akhir cerita. Namun sayang, keputusan si Penulis tidak dapat dirubah dan si tokoh ceritapun meninggal tertabrak kendaraan saat menolong anak kecil yang sedang bermain sepatu roda. Meskipun saya tidak begitu suka dengan film ini berhubung ceritanya sedikit berbelit dan lambat, tapi saya lebih menyukai maksud yang terkandung dalam isi cerita.
Seorang penulis mampu membangun sebuah cerita sesuka hatinya, memunculkan tokoh semaunya, merubah seluruh adegan menurut kehendaknya. Namun dalam dunia nyata apakah ia mampu merubah kehidupanya sendiri? Mungkin bisa namun atas ijin Sang Kuasa.
Seperti halnya kita manusia yang hidup di bawah naungan Allah SWT, tidak mampu berbuat apa-apa jika Allah telah berkehendak. Seperti sebuah skenario cerita. Tidak akan seru bila tanpa diwarnai konflik yang turun naik dan menegangkan. Karena dari situlah kita mampu menyerap sebuah pelajaran. Begitu juga hidup kita yang ternyata telah memiliki skenario sendiri-sendiri. Skenario yang telah tersusun rapi dengan pertimbangan sebaik-baiknya.
Kita manusia hanya menjalani proses hidup yang telah ditulis, kita juga punya hak untuk berusaha merubah nasib meski ketentuan akhir tetap di tangan-Nya. Dalam menjalani hidup anggap saja kita hanya seorang tokoh film yang menjalani peran dari skenario terbaik agar tidak merasa terbebani oleh cobaan yang menghimpit. Semakin tinggi pohon maka semakin kencang tertiup angin. Lalu bagaimanakah agar pohon itu tidak mudah tumbang? jawabannya "akar" seindah apapun bunga-nya, serindang apapun daunnya dia pasti akan tumbang tanpa dukungan akar yang kuat. Bangunlah pondasi kesabaran, dan keikhlasan. Karena dibalik kesulitan pasti ada kemudahan. Hanya seberapa besar kesediaan hati kita untuk mencerna yang ada. Apa yang hari ini membebani kita, bahkan membuat kita menangis. Mungkin esok kita justru menertawakannya. Tidak ada mausia sempurna, tidak ada hidup yang sempurna. Kesempurnaan itu terletak pada "seberapa sempurna kita mensyukuri yang ada". Kebahagiaan bukan terletak pada apa yang kita cari, tapi pada apa yang kita syukuri. Sederhanakan yang tidak sederhana, istimewakan yang biasa.
Kita semua menyadari saat kita sedang dirundung masalah kita tidak membutuhkan nasehat tapi solusi. Sementara solusi yang baik hanya dihasilkan oleh pemikiran yang baik. Lalu bagaimana kita mendapatkan itu, sementara pikiran kita kalut. Jujurlah pada diri sendiri. Hidup kita ada di tangan dan kaki kita. Meski kita juga tidak mampu hidup tanpa orang lain. Setidaknya berpikirlah sebelum bertindak. Jangan sia-siakan apa yang kita miliki. Semua akan terasa berarti jika dia telah pergi.
“Allah tidak akan memberi cobaan melebihi kemampuan kita.” Anggap saja kita adalah aktor terbaik dari sutradara terbaik.
MK___________July 5th, 2008
Tokoh pria pada novel yang sedang ditulis Si pengarang tadi berusaha memohon agar si penulis mau merubah ending cerita; Agar dirinya tidak harus meninggal pada akhir cerita. Namun sayang, keputusan si Penulis tidak dapat dirubah dan si tokoh ceritapun meninggal tertabrak kendaraan saat menolong anak kecil yang sedang bermain sepatu roda. Meskipun saya tidak begitu suka dengan film ini berhubung ceritanya sedikit berbelit dan lambat, tapi saya lebih menyukai maksud yang terkandung dalam isi cerita.
Seorang penulis mampu membangun sebuah cerita sesuka hatinya, memunculkan tokoh semaunya, merubah seluruh adegan menurut kehendaknya. Namun dalam dunia nyata apakah ia mampu merubah kehidupanya sendiri? Mungkin bisa namun atas ijin Sang Kuasa.
Seperti halnya kita manusia yang hidup di bawah naungan Allah SWT, tidak mampu berbuat apa-apa jika Allah telah berkehendak. Seperti sebuah skenario cerita. Tidak akan seru bila tanpa diwarnai konflik yang turun naik dan menegangkan. Karena dari situlah kita mampu menyerap sebuah pelajaran. Begitu juga hidup kita yang ternyata telah memiliki skenario sendiri-sendiri. Skenario yang telah tersusun rapi dengan pertimbangan sebaik-baiknya.
Kita manusia hanya menjalani proses hidup yang telah ditulis, kita juga punya hak untuk berusaha merubah nasib meski ketentuan akhir tetap di tangan-Nya. Dalam menjalani hidup anggap saja kita hanya seorang tokoh film yang menjalani peran dari skenario terbaik agar tidak merasa terbebani oleh cobaan yang menghimpit. Semakin tinggi pohon maka semakin kencang tertiup angin. Lalu bagaimanakah agar pohon itu tidak mudah tumbang? jawabannya "akar" seindah apapun bunga-nya, serindang apapun daunnya dia pasti akan tumbang tanpa dukungan akar yang kuat. Bangunlah pondasi kesabaran, dan keikhlasan. Karena dibalik kesulitan pasti ada kemudahan. Hanya seberapa besar kesediaan hati kita untuk mencerna yang ada. Apa yang hari ini membebani kita, bahkan membuat kita menangis. Mungkin esok kita justru menertawakannya. Tidak ada mausia sempurna, tidak ada hidup yang sempurna. Kesempurnaan itu terletak pada "seberapa sempurna kita mensyukuri yang ada". Kebahagiaan bukan terletak pada apa yang kita cari, tapi pada apa yang kita syukuri. Sederhanakan yang tidak sederhana, istimewakan yang biasa.
Kita semua menyadari saat kita sedang dirundung masalah kita tidak membutuhkan nasehat tapi solusi. Sementara solusi yang baik hanya dihasilkan oleh pemikiran yang baik. Lalu bagaimana kita mendapatkan itu, sementara pikiran kita kalut. Jujurlah pada diri sendiri. Hidup kita ada di tangan dan kaki kita. Meski kita juga tidak mampu hidup tanpa orang lain. Setidaknya berpikirlah sebelum bertindak. Jangan sia-siakan apa yang kita miliki. Semua akan terasa berarti jika dia telah pergi.
“Allah tidak akan memberi cobaan melebihi kemampuan kita.” Anggap saja kita adalah aktor terbaik dari sutradara terbaik.
MK___________July 5th, 2008
Indonesia dan Masa Depan
"Kau harus berpikir untuk memperbaiki negerimu. Ingatkan pengambil kebijakannya untuk tidak menjilat Amerika dan negara manapun. Aku pernah ke Indonesia dan aku melihatnya sebagai negara yang sangat besar diantara benua Asia dan Australia. Kekayaanya luar biasa. Seharusnya sudah jadi macan Asia. Dari segi modal dan fasilitas yang diberikan Tuhan kepda negerimu, kalau diibartkan negerimu itu kelas hotel bintang lima lebih. Tetapi karena bangsamu tidak bisa mengurusnya, jadinya ya seperti kelas bintang melati yang memprihatinkan. Kau harus kembalikan negrimu ke posisi bintang limanya."
Cuplikan dialog di atas adalah bagian dari buku Bumi Cinta karya Habiburahman El Shirazy. Dialog yang cukup panjang yang diucapkan salah satu tokoh yang bernama Profesor Tomskii dari Rusia kepada Ayyas pemuda dari Indonesia. Saya bukan ingin membahas cerita dalam buku itu, saya hanya ingin kita mencerna ucapan Professor Tomskii secara kita adalah warga negara Indonesia.
Ditinjau dari kualitas sumberdaya alam Indonesia merupakan bangsa besar, yang berpotensi menjadi bangsa yang besar seperti yang diucapkan Profesor Tomskii. Sayangnya, apakah yang menyebabkan bangsa kita justru cenderung mengalami kemunduran. Selain bencana alam yang sering terjadi, bangsa kita justru menanggung hutang yang semakin besar. Kenapa nasib negara kita tidak mampu seperti negara China yang semakin kokoh dan kaya? adakah yang salah dengan sumber daya manusia kita? untuk menciptakan lapangan kerja saja bangsa kita keteteran sehingga banyak tenaga kerja yang lebih memiih ke luar negeri untuk menyambung kehidupan. Dan justru dari hal itu malah mendatangkan keuntungan devisa yang tidak sedikit. Namun apakah keselamatan mereka sudah terjamin?
Begitu sering kita mendengar kekerasan yang harus dialami oleh beberapa TKI indonesia. Baru-baru ini Sumiati seorang TKW yang bekerja di Arab Saudi harus mengalami penyiksaan yang dilakukan oleh majikannya. Dia mendapatkan luka serius di kedua kaki, sekujur tubuh, wajah, bahkan mulut (bibir bagian atas) digunting. Belum selesai masalah Sumiati kita pun dikagetkan oleh mayat Kikim Komalsari yang digorok lehernya tiga hari sebelum hari raya Idul Adha. Lalu mayatnya dibuang ke tong sampah. Sebenarnya apa yang terjadi dengan manusia di sana? mari kita renungkan masalahnya ada pada mereka atau negara kita?
Sudah begitu sering ketidak-beruntungan harus diterima oleh TKI kita, bahkan setiap tahunnya semakin bertambah. Penyiksaan yang dilakukan oleh majikan di Arab tidak hanya sekali dua kali, hampir setiap tahun berita menyedihkan itu kita terima. Sebenarnya apa alasannya? Apakah karena hati orang Arab itu benar-benar batu, ataukah pemerintahan kita yang belum mampu memberikan perlindungan tegas terhadap warganya. Seandainya negara kita mampu memberikan perlindungan yang tegas mungkin semua itu tidak harus dialami TKI berulang kali. Kenapa setiap kenaasan harus berakhir dengan uang lalu selesai perkara. Sedangkan uang bagi orang kaya bukan masalah besar. Kenapa uang mampu membeli nyawa? sedangkan nyawa tidak ada yang bisa membuatnya. Indonesia perlu ketegasan hukum yang melindungi mereka. Apa yang terjadi dengan wakil rakyat sungguhnya? Mereka mampu membuat diri mereka semakin kaya tapi tidak mampu menjamin kekayaan bagi negerinya. Membayar orang untuk menjaga kekayaan rumahnya namun tidak mampu menjaga keselamatan rakyatnya. Begitukah?
Bila saya amati negara kita adalah negeri penghasil uang tapi diperbudak oleh uang. semua yang ada di alam Indonesia memiliki nilai jual. Kita lihat betapa nasib orang miskin harus selalu tersisih. Saat dalam pemilihan wakil rakyat pun orang yang tidak memiliki uang tidak akan memeiliki kesempatan untuk mencalonkan diri, karena begitu banyak uang yang diperlukan dalam permainan itu. Alhasil orang yang berkompetensi dan benar-benar memiliki kemampuan memajukan bangsanya terpaksa harus mundur teratur karena tidak memiliki modal. Tidak hanya aparatur negara bahkan sekolah tertentu pun uang mampu jadi tuan. Dan orang miskin yang cerdas tidak memiliki kesempatan untuk mengenyam pendidikan tinggi karena biaya yang mahal. Sedangkan kita juga sering menjumpai anak orang kaya sekolah hanya sekedar formlitas mendpatkan ijasah, Mohon maaf bila ada yang kurang berkenan. Tapi mau tidak mau hal seperti itu sering kita jumpai,bukan? Hampir pergerakan negara kita adalah mencari uang.
Anda kenal Gayus? koruptor pajak yang mampu keluar masuk penjara bahkan berlibur bersama keluarganya ke Bali dalam masa tahanan. Halo... Apa yang terjadi dengan negara kita? Hei aparat negara apa yang terjadi? lagi-lagi uang bermain. Betapa hebatnyas seorang tahanan mampu berlaku seperti di dalam hotel. Sudahkah anda bertanggung jawab dengan tugas dan jabatan anda? silahkan direnungkan. Anda mampu menciptakan peraturan kenapa anda sendiri tidak mampu mematuhi peraturan yang anda buat? lalu bagaimana negara lain takut dengan peraturan negra kita sementara mereka mampu membeli nyawa. Berapa banyak Kikim dan Sumiati lain yang harus dikorbankan? hanya demi uang. Karena hampir setiap peristiwa penganiayaan akan berakhir dengan uang.
Seandainya bisa saya benar-benar ingin membenci uang tapi kenapa segala sesuatu dihargai dengan uang. Bahkan bencana alam pun butuh uang. Saya juga ingin mengingatkan pada PJTKI yang mengurus keberangkatan TKI ke Arab Saudi tolong jangan asal kirim, bekali mereka dengan ketrampilan yang memadai, jangan asal kirim manusia. Karena mereka berangkat untuk kerja sedangkan kemampuan mereka adalah modal utama. Siapa yang tahu bagaimana perangai dan tingkat kesabaran seseorang. Saya sering mendengar bahwa orang yang mendaftar bekerja ke Arab justru akan mendapatkan uang sekitar Rp 500.000,- otomatis bagi orang-orang yang membutuhkan uang iming-iming itu menggiurkan. Selain itu masa keberangkatan tidak perlu menunggu lama hanya sekitar satu bulan, siapkah ketrampilan bahasa dan modal ketrampilan kerja mereka? tidak. Betapa gegabahnya berharap mendapat uang secepatnya tanpa bekal yang cukup. Mampukah kalian mengganti nyawa yang sudah melayang? dari semua keberuntungan itu seharusnya kita mampu membuka mata untuk saling menjaga, kenapa cenderung mencari keuntungan. Kenapa dalam segala hal memakai motif ekonomi? tidakkah bangsa kita benar-benar dalam keadaan memprihatinkan?
Cuplikan dialog di atas adalah bagian dari buku Bumi Cinta karya Habiburahman El Shirazy. Dialog yang cukup panjang yang diucapkan salah satu tokoh yang bernama Profesor Tomskii dari Rusia kepada Ayyas pemuda dari Indonesia. Saya bukan ingin membahas cerita dalam buku itu, saya hanya ingin kita mencerna ucapan Professor Tomskii secara kita adalah warga negara Indonesia.
Ditinjau dari kualitas sumberdaya alam Indonesia merupakan bangsa besar, yang berpotensi menjadi bangsa yang besar seperti yang diucapkan Profesor Tomskii. Sayangnya, apakah yang menyebabkan bangsa kita justru cenderung mengalami kemunduran. Selain bencana alam yang sering terjadi, bangsa kita justru menanggung hutang yang semakin besar. Kenapa nasib negara kita tidak mampu seperti negara China yang semakin kokoh dan kaya? adakah yang salah dengan sumber daya manusia kita? untuk menciptakan lapangan kerja saja bangsa kita keteteran sehingga banyak tenaga kerja yang lebih memiih ke luar negeri untuk menyambung kehidupan. Dan justru dari hal itu malah mendatangkan keuntungan devisa yang tidak sedikit. Namun apakah keselamatan mereka sudah terjamin?
Begitu sering kita mendengar kekerasan yang harus dialami oleh beberapa TKI indonesia. Baru-baru ini Sumiati seorang TKW yang bekerja di Arab Saudi harus mengalami penyiksaan yang dilakukan oleh majikannya. Dia mendapatkan luka serius di kedua kaki, sekujur tubuh, wajah, bahkan mulut (bibir bagian atas) digunting. Belum selesai masalah Sumiati kita pun dikagetkan oleh mayat Kikim Komalsari yang digorok lehernya tiga hari sebelum hari raya Idul Adha. Lalu mayatnya dibuang ke tong sampah. Sebenarnya apa yang terjadi dengan manusia di sana? mari kita renungkan masalahnya ada pada mereka atau negara kita?
Sudah begitu sering ketidak-beruntungan harus diterima oleh TKI kita, bahkan setiap tahunnya semakin bertambah. Penyiksaan yang dilakukan oleh majikan di Arab tidak hanya sekali dua kali, hampir setiap tahun berita menyedihkan itu kita terima. Sebenarnya apa alasannya? Apakah karena hati orang Arab itu benar-benar batu, ataukah pemerintahan kita yang belum mampu memberikan perlindungan tegas terhadap warganya. Seandainya negara kita mampu memberikan perlindungan yang tegas mungkin semua itu tidak harus dialami TKI berulang kali. Kenapa setiap kenaasan harus berakhir dengan uang lalu selesai perkara. Sedangkan uang bagi orang kaya bukan masalah besar. Kenapa uang mampu membeli nyawa? sedangkan nyawa tidak ada yang bisa membuatnya. Indonesia perlu ketegasan hukum yang melindungi mereka. Apa yang terjadi dengan wakil rakyat sungguhnya? Mereka mampu membuat diri mereka semakin kaya tapi tidak mampu menjamin kekayaan bagi negerinya. Membayar orang untuk menjaga kekayaan rumahnya namun tidak mampu menjaga keselamatan rakyatnya. Begitukah?
Bila saya amati negara kita adalah negeri penghasil uang tapi diperbudak oleh uang. semua yang ada di alam Indonesia memiliki nilai jual. Kita lihat betapa nasib orang miskin harus selalu tersisih. Saat dalam pemilihan wakil rakyat pun orang yang tidak memiliki uang tidak akan memeiliki kesempatan untuk mencalonkan diri, karena begitu banyak uang yang diperlukan dalam permainan itu. Alhasil orang yang berkompetensi dan benar-benar memiliki kemampuan memajukan bangsanya terpaksa harus mundur teratur karena tidak memiliki modal. Tidak hanya aparatur negara bahkan sekolah tertentu pun uang mampu jadi tuan. Dan orang miskin yang cerdas tidak memiliki kesempatan untuk mengenyam pendidikan tinggi karena biaya yang mahal. Sedangkan kita juga sering menjumpai anak orang kaya sekolah hanya sekedar formlitas mendpatkan ijasah, Mohon maaf bila ada yang kurang berkenan. Tapi mau tidak mau hal seperti itu sering kita jumpai,bukan? Hampir pergerakan negara kita adalah mencari uang.
Anda kenal Gayus? koruptor pajak yang mampu keluar masuk penjara bahkan berlibur bersama keluarganya ke Bali dalam masa tahanan. Halo... Apa yang terjadi dengan negara kita? Hei aparat negara apa yang terjadi? lagi-lagi uang bermain. Betapa hebatnyas seorang tahanan mampu berlaku seperti di dalam hotel. Sudahkah anda bertanggung jawab dengan tugas dan jabatan anda? silahkan direnungkan. Anda mampu menciptakan peraturan kenapa anda sendiri tidak mampu mematuhi peraturan yang anda buat? lalu bagaimana negara lain takut dengan peraturan negra kita sementara mereka mampu membeli nyawa. Berapa banyak Kikim dan Sumiati lain yang harus dikorbankan? hanya demi uang. Karena hampir setiap peristiwa penganiayaan akan berakhir dengan uang.
Seandainya bisa saya benar-benar ingin membenci uang tapi kenapa segala sesuatu dihargai dengan uang. Bahkan bencana alam pun butuh uang. Saya juga ingin mengingatkan pada PJTKI yang mengurus keberangkatan TKI ke Arab Saudi tolong jangan asal kirim, bekali mereka dengan ketrampilan yang memadai, jangan asal kirim manusia. Karena mereka berangkat untuk kerja sedangkan kemampuan mereka adalah modal utama. Siapa yang tahu bagaimana perangai dan tingkat kesabaran seseorang. Saya sering mendengar bahwa orang yang mendaftar bekerja ke Arab justru akan mendapatkan uang sekitar Rp 500.000,- otomatis bagi orang-orang yang membutuhkan uang iming-iming itu menggiurkan. Selain itu masa keberangkatan tidak perlu menunggu lama hanya sekitar satu bulan, siapkah ketrampilan bahasa dan modal ketrampilan kerja mereka? tidak. Betapa gegabahnya berharap mendapat uang secepatnya tanpa bekal yang cukup. Mampukah kalian mengganti nyawa yang sudah melayang? dari semua keberuntungan itu seharusnya kita mampu membuka mata untuk saling menjaga, kenapa cenderung mencari keuntungan. Kenapa dalam segala hal memakai motif ekonomi? tidakkah bangsa kita benar-benar dalam keadaan memprihatinkan?
Langganan:
Postingan (Atom)